![]() |
Pict by IG @andikawirateja |
“Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” merupakan kutipan yang disampaikan oleh Soekarno dalam pidatonya pada Hari Pahlawan 10 November 1961. Kutipan pidato yang menggambarkan sosok Gede Andika yang menggambarkan tentang pentingnya peran pemuda dalam kemajuan bangsa Indonesia.
Berawal dari keprihatinan Gede Andika saat berkuliah di Bali, ia prihatin melihat kondisi sekitar sehingga akhirnya pintu hatinya terketuk untuk turut berkontribusi dan menjadi manusia yang lebih berdampak untuk daerah di Bali. Meskipun awalnya tidak mudah, namun Gede Andika bersemangat dan optimis merintis program KREDIBALI, yakni Kreasi Edukasi Bahasa dan Literasi Lingkungan yang berada di Bali. Meskipun harus mengorbankan pendidikannya untuk membatalkan melanjutkan kuliah S2 dan beasiswa yang telah ia dapatkan, namun Gede Andika yakin jika apa yang sudah dia rencanakan ini dapat membantu lebih banyak orang.
Perlu diketahui, jika gagasan dan inovasi yang telah Gede Andika usung ini sebenarnya berawal saat Pandemi. Pandemi saat itu menjadi mimpi buruk, hingga menimbulkan dampak yang sulit bagi perekonomian masyarakat, tanpa terkecuali di Desa Pemuteran yang berada di Bali Utara. Sehingga, banyak anak yang tidak dapat melanjutkan sekolah akibat terkendala perangkat dan jaringan yang saat itu proses belajar mengajar melalui daring yang tentunya membutuhkan perangkat serta jaringan yang mumpuni. Karena hal itulah yang membuat anak-anak di sana memilih untuk membantu keluarga untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Miris.
Bali, sesungguhnya merupakan tempat yang biasa selalu ramai dikunjungi dan menjadi sektor pariwisata yang menjadi andalan perekonomian masyarakat di sana, namun akibat yang ditimbulkan pada masa pandemi pun juga kena imbasnya. Sebagaimana berdasarkan katadata.co.id, bahwa tumbangnya bisnis pariwisata di Bali karena pembatasan perjalanan dan larangan ke tempat rekreasi akibat dampak Covid-19. Sehingga kunjungan wisatawan asing ke Bali menurun hingga 20%.
KREDIBALI Harapan Untuk Anak-anak di Bali
![]() |
Pict by instagram @jejakliterasibali |
Pandemi nyatanya tidak hanya memberi dampak dapat menghilangkan mata pencaharian masyarakat di sana, akan tetapi membuat anak-anak di sana pun ikut terkena imbas, sebab rata-rata ekonomi masyarakat di sekitar Desa Pemuteran masih tergolong menengah ke bawah. Sehingga, mau tidak mau anak-anak putus sekolah. Namun, kehadiran inovasi dari Gede Andika, KREDIBALI, memberikan secercah harapan, sebab membantu anak-anak SD dan SMP mendapatkan pelatihan Bahasa Inggris.
Menariknya, anak-anak yang akan ikut pelatihan Bahasa Inggris yang diadakan oleh KREDIBALI harus membawa sampah plastik sebagai alat tukar terhadap ilmu yang mereka dapatkan. Bahkan, anak-anak dapat membayar pelatihan Bahasa Inggris dengan menyiram pohon sebelum berangkat belajar. Dengan cara ini, diharapkan anak-anak tidak lagi memandang sampah hanya sebelah mata dan dapat menjadi lebih perhatian terhadap lingkungan, terutama di lingkungan sekitar tempat tinggal dan belajar.
![]() |
Pict by Instagram @jejakliterasibali |
Namun, Ibarat sebuah jalan tentunya pasti akan ada jalan yang bergelombang bahkan terjal dan berkerikil. Hal itulah yang sempat dihadapi oleh Gede Andika, sebab idenya tersebut sempat ditolak karena aparatur desa khawatir terhadap protokol kesehatan pada anak-anak, karena saat itu kasus covid makin meningkat. Bahkan, para orang tua anak pun sempat mengkhawatirkan biaya kursus yang mahal, apalagi beberapa orang tua anak telah kehilangan mata pencaharian, tentu biaya belajar meskipun sekecil apapun akan terasa berat. Akan tetapi, berkat usaha, niat tulus dan keberhasilan Gede Andika dalam memberikan pemahaman dan ketatnya aturan protokol kesehatan yang diterapkan, ia pun akhirnya mendapat izin untuk menggunakan ruangan rapat sebagai ruang belajar oleh pihak desa.
Sekali Merengkuh Dayung, Dua Tiga Pulau Terlampaui
Peribahasa tersebut sangat sesuai untuk menggambarkan perjuangan Gede Andika. Sebab, hadirnya Gede Andika tidak hanya menjadi angin segar bagi pendidikan anak-anak di sana. Akan tetapi, perjalanannya membuka kursus Bahasa Inggris tersebut juga membuka berkah baru bagi lansia kurang mampu di desa tersebut, yakni para lansia mendapat bantuan beras dari hasil tukar sampah plastik yang dikumpulkan oleh para siswa Gede Andika, tentunya melalui hasil kerjasama KREDIBALI dengan Plastic Exchange.
Berkat kerja kerasnya, Gede Andika pun akhirnya mendapat apresiasi SATU Indonesia Awards 2021 dari Astra Indonesia sebagai salah seorang pejuang tanpa pamrih di masa pandemi Covid-19. Berkat upaya serta dedikasinya untuk kemajuan pendidikan anak-anak dan literasi lingkungan itulah yang kemudian mengantarkannya pada prestasi tinggi tersebut.
Tidak ada komentar
Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar yang dapat membangun tulisan saya.
Mohon maaf, komen yang mengandung link hidup tidak saya publish ya :)